Minggu, 17 Juli 2011

PANTUN = soPAN sanTUN


Oleh : Fakhriyansyah

Penggiat Sastra Kota Tanjungpinang



Tanam padi sudah biasa

Tolong pinggirkan jangan dibantun

Indah budi karena bahasa

Elok tuturan bersopan santun

Kebiasaan berpantun merupakan suatu hal yang lazim dilakukan oleh masyarakat Melayu. Terutama Kota Tanjungpinang, maka pantaslah negeri ini disematkan sebagai Negeri Pantun. Tilik punya tilik, memanglah benar adanya kebiasaan berpantun itu dilakukan oleh masyarakatnya untuk berucap, bertutur dan bahkan menyindir orang dengan menggunakan pantun, kalaupun bisa menyatakan cinta, menolak cinta atau marah pun akan dilakukan dengan berpantun bahkan bila emosi memuncak, orang Melayu memiliki trik tersendiri untuk meluapkannya, yakni PANTUN.

Pantun adalah salah satu bentuk puisi lama Melayu. UU Hamidy mengungkapkan bahwa pantun dapat diartikan sebagai bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntutan dan bimbingan. Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas 4 baris dalam satu bait. Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang, baris ketiga dan keempat merupakan isi atau jawab. Setiap baris terdiri dari 4-5 kata atau 8-12 suku kata. Pantun memiliki sajak a-b-a-b. Mungkin ini sudah kita kenali sejak berada dibangku sekolah dasar dan bahkan diulang kembali sampai ke perguruan tinggi. Namun, ciri-ciri pantun itu sering sekali kita lupakan dan seolah hanya sekedar ingatan sesaat. Ada yang menyamakan antara pantun dan karmina. Itu memang suatu perbedaan yang sangat jelas tampak, bagi kita yang terbiasa dengan pantun 4 kerat. Karmina atau pantun kilat atau pantun betawi itu terdiri dari 2 baris, namun memiliki persajakan a-b-a-b juga, misalnya :

Ikan sepat, ikan gabus

Makin cepat, makin bagus

Tampak memang perbedaannya, meski memiliki persajakan yang sama. Namun itu bukan lah pantun yang kita kenali sejak dulu. Pantun, memang merupakan suatu kebiasaan orang Melayu untuk mengucapkan sesuatu dengan tujuan agar bersopan santun. Itulah sebabnya, pantun membuat orang menjadi lebih sopan dan santun. Dengan berpantun karakter pribadi tampak jelas, bahwa orang itu memiliki kepribadian yang berbudi luhur. Itulah sebabnya, budaya berpantun harus dikembangkan sejak dini. Semenjak menjadi Negeri Pantun, Kota Tanjungpinang mulai giat dalam melestarikan budaya bangsa yang sejatinya kita kembangkan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun memiliki banyak halangan dan tantangan, banyak even-even besar yang mengadakan peraduan pantun, apakah itu antar pelajar SD, SMP, SMA bahkan Mahasiswa, kader PKK, instansi bahkan yang lebih luas lagi. Selain peraduan, dalam setiap kesempatan, untuk memulai, ditengah atau diakhir pidato setiap kata sambutan atau pidato baik itu pejabat daerah, kepala dinas instansi, kepala sekolah, guru, siswa dan sebagainya selalu diselipkan. Itu adalah salah satu usaha melestarikan budaya berpantun. Rasanya kalau tidak diselipkan pantun, seperti hambar dan ada saja yang kurang. Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A Manan, sangat menganjurkan agar dalam setiap kegiatan untuk menyelipkan pantun dalam pidato atau sambutannya. Karena menurut beliau, pantun adalah ciri khas Tanjungpinang pada khususnya dan Melayu umumnya.

Ingatkah dengan pantun ini:

Cik Minah sakit kakinya

Karena terjatuh dari tangga

Buanglah sampah pada tempatnya

Agar kebersihan tetap terjaga

Itu adalah pantun yang diletakkan ditong-tong sampah milik Pemko Tanjungpinang. Namun sekarang pantun itu seolah terbiar dan bahkan banyak yang telah terlepas dari tempatnya serta hilang. Menurut saya, itu adalah suatu hal yang sudah bagus dan perlu diperbanyak lagi. Memang itu adalah suatu tantangan, sebab banyak tangan-tangan usil yang tak bertanggung jawab, tak suka dengan pantun Cik Minah itu terpampang ditepi-tepi jalan Kota Tanjungpinang. Kini tak banyak pula hanya tinggal tiang besi penyanggahnya atau tinggal keterangan informasi tentang sampah organik dan anorganik, luar biasa....

Kembali ke Pantun.... seorang Datin dari Malaysia, menghimpun pantunnya dalam sebuah buku pantun yakni Himpunan Syahdu Pantun Melayu Indah Dalam Kiasan, tulisan Datin Asima Abdul Latiff, menuliskan berbagai jenis pantun. Inilah petikan pantun 6 kerat yang menggugah hati, yakni :

Kalau berbuah dusun dibukit

Luruh dicari bersama-sama

Longgok ditepi pohon kuini

Dimajlis nikah pantun terselit

Di dewan negeri pantun bergema

Kita lestari warisan ini

Memang, pantun yang luar biasa. Mengarang pantun dengan sempurna. Dari segi bahasa yang digunakan, merupakan bahasa Melayu asli dan sepertinya tak pernah terfikirkan oleh kita untuk menuliskan pantun dengan kata-kata tersebut.

Jadikanlah pantun sebagai ragam tuturan lisan sehari-hari. Pantun juga sebagai latihan untuk berpikir kritis untuk menyusun kata-kata yang bersajak. Selain itu juga menjadikan kita menjadi lebih soPAN sanTUN.... mari berpantun......!!!!

Pergi kepekan mencari kayu

Indah cuaca ketika pagi

Kita masyhurkan pantun Melayu

Kalau tak kita siapa lagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar